News Detail

Para Pembalap Akui Track Downhill Ternadi Sangat Menantang Dan Susah Diingat

Para Pembalap Akui Track Downhill Ternadi Sangat Menantang Dan Susah Diingat

Kudus - Para pembalap yang mengikuti kejuaraan 76 Indonesian Downhill 2019, Series 3, mengakui track di Ternadi Bike Park, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, sangat menantang dan susah diingat. Dibandingkan dengan lintasan di seri pendahulu, mulai dari Bromo hingga Wonogiri, jauh lebih menantang karena sangat curam dan lintasannya sangat panjang. Track di Ternadi Bike Park, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, memiliki panjang lintasan hingga 2,3 kilometer, sedangkan lintasan pada seri sebelumnya sekitar 1,5 kilometer.

"Meskipun kejuaraan tahun lalu di Ternadi juga ikut, tetapi saya tetap sulit menghafalkan tracknya secara keseluruhan," kata salah satu pembalap Joko Supriyadi dari Wika Forgem. Selain terlalu panjang, kata dia, banyak tikungan dan susah ditebak ketika memacu sepeda dengan kecepatan maksimal karena berdebu.

Meskipun demikian, lintasan di Ternadi dianggap sebagai tantangan untuk bisa menaklukkannya agar meraih prestasi terbaik di kelas hobby. Untuk mempersiapkan agar meraih hasil terbaik, dia menyempatkan diri melakukan walking track guna menghafal lintasan, menganalisa kontur tanah, keadaan racing line, dan section-sectionnya. 

"Kesiapan fisik juga penting dipersiapkan karena lintasan di Ternadi ini membutuhkan fisik yang kuat," ujarnya.

Berbeda dengan Ajaitokun, pembalap downhill asal Malaysia ini mengakui untuk bisa menghafal track tidak sekadar menjajal lintasan saja, melainkan manfaatkan visual dari kamera Go Pro yang terpasang di helm. Pembalap yang turun di kelas Men Youth itu, mengakui lintasan di Ternadi Kudus ini sangat curam dan susah dihafal.

"Jalan satu-satunya ya harus merekam lintasan dengan kamera Go Pro serta melihat tayangan soal lintasan Ternadi di You tube," ujarnya. Ketika mau tidur, bisa melihat-lihat kembali lintasan yang sudah terekam dengan harapan bisa mengingat meskipun tidak Seluruhnya.

"Minimal pada titik-titik yang dianggap sulit ditaklukkan," ujarnya.

Dibandingkan lintasan Downhill di Bromo, katanya, Ternadi memang lebih menantang karena lebih curam, sedangkan di Bromo cenderung teknikal. Lokasi lintasan yang berada di pegunungan yang cukup tinggi ini, menjadi pengalaman pertama karena sepanjang karirnya baru menemui di Kudus.

Di negaranya, Malaysia juga belum pernah ditemukan lintasan yang sangat curam karena rata-rata berada di kawasan perbukitan. Tristan, pembalap downhill asal Bandung yang turun di kelas Men Youth juga mengakui sulit menghafalkan lintasan di Ternadi karena cukup panjang. Untuk mendapatkan hasil maksimal saat balapan, dia mencoba menghafalkan lintasan dengan cara jalan kali dari awal start hingga finish.

"Titik tertentu, saya foto untuk saya hafalkan agar saat balapan bisa finish dengan waktu terbaik. Minimal tidak terjatuh," ujarnya. Secara fisik, dia mengaku, siap balapan, tinggal menghafal lintasan agar tidak terjatuh karena saat free practice sempat terjatuh.